Tak ada yang lebih tabah dari hujan bulan juni
(Hujan Bulan Juni ~ Sapardi Djoko Damono)

Hujan Bulan Juni merupakan puisi Sapardi Djoko Damono yang menurut saya istimewa, bersanding puisinya yang berjudul Aku Ingin, yang merupakan
masterpiece dari sang maestro.
Hujan banyak dipakai oleh Sapardi Djoko Damono, puisinya banyak yang mengambil judul hujan; Tajam Hujanmu, Kuterka Gerimis, Sihir Hujan, Kuhentikan Hujan. Hujan Bulan Juni sendiri menjadi judul sampul
buku puisinya.
Puisinya yang lain, yang memuat hujan juga terasa manis:
"ada gadis kecil diseberangkan gerimis
di tangan kanannya bergoyang payung
tangan kirinya mengibaskan tangis-
di pinggir padang ada pohon dan seekor burung"
(Gadis Kecil ~ Sapardi Djoko Damono)
Joko Pinurbo, salah seorang penerima Khatulistiwa Award, dalam
blognya mengatakan “entah kenapa saya selalu ingin membaca ulang sajak tersebut, padahal isinya 'hanya' lukisan suasana/ perasaan ngelangut dan nelangsa". Sajak yang dimakud adalah sajak yang mengandung hujan pula:
"Maka pada suatu pagi hari ia ingin sekali menangis sambil berjalan tunduk sepanjang lorong itu. Ia ingin pagi itu hujan turun rintik-rintik dan lorong sepi agar ia bisa berjalan sendiri saja sambil menangis dan tak ada orang bertanya kenapa.
Ia tidak ingin menjerit-jerit berteriak-teriak mengamuk memecahkan cermin membakar tempat tidur. Ia hanya ingin menangis lirih saja sambil berjalan sendiri dalam hujan rintik-rintik di lorong sepi pada suatu pagi."
(Pada Suatu Pagi Hari ~ Sapardi Djoko Damono)
Hujan mungkin metafora keadaan nelangsa. Hujan juga mungkin seperti cinta: teduh, lembut dan syahdu. Dan suatu saat ia dapat menjelma petaka: BAH.
Akan tetapi para tetua dulu sering menasihati, “jangan pernah menggerutu hujan”. Karena bagi meraka hujan itu karunia yang mengairi ladang dan sawah. Meski mungkin untuk sebagian dari kita sekarang hujan berarti menghambat aktifitas outdoor, dan... banjir.
Dan memang hujan itu istimewa:
“tak ada yang lebih tabah dari hujan bulan juni
dirahasiakannya rintik rindunya kepada pohon berbunga itu
tak ada yang lebih bijak dari hujan bulan juni
dihapusnya jejak-jejak kakinya yang ragu-ragu di jalan itu
tak ada yang lebih arif dari hujan bulan juni
dibiarkannya yang tak terucapkan diserap akar pohon bunga itu”
(Hujan Bulan Juni ~ Sapardi Djoko Damono)
Juni adalah penghujung kemarau. Di negeri dua musim.
Dan kita, sebagai Indonesia masih merindu ‘kemarau’ itu terbasahi. Gerah dan gersangnya keadaan sosial, ekonomi dan hukum. Tepatnya yang terasa pada akhir-akhir ini. Panas.
Kita merindukan kemakmuran dan keadilan. Tapi, adakah kemakmuran dan keadilan itu merindukan kita pula, sebagaimana rintik rindu si “Hujan Bulan Juni yang begitu tabah” pada pohon berbunga itu…??
Mungkin, adil dan makmur itu sudah begitu lelah menunggu kesempatan untuk hadir di negeri ini.
Semoga ia tetap arif, bijak dan tabah menanti.
lanjutan and komentar...